Bukan
bicara soal hukum fiqih antara halal dan haram ataupun bicara apa yang
dilakukan atau sebanyak apakah petasan yang diledakan malam tadi, tetapi ini
bicara soal mental dan kebiasaan yang dilakukan oleh lingkungan sosial masyarakat yang selalu latah dalam
mengikuti segala hal yang entah
itu baik ataupun buruk, Akan sangat
cepat diikuti dan menyebar dimasyarakat Indonesia.
Mayoritas masyarakat yang entah memang
mental orang kaya yang menular ataukah memang mental kehidupan yang serba
instan serta mengejar kesenangan sesaat dan lebih mengedepankan memenuhi hasrat gengsi
atas sesuatu tercapai dan bisa dipandang lebih keren dari yang lain, hal
tersebut terjadi dalam segala hal dalam kepemilikan barang, ketika berbicara
makanan. karena
posisi sekarang makanan sudah menjadi gengsi bukan hanya pada esensi sebenarnya
untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah.
Dan yang paling baru serta kebiasaan yang diulang- ulang
setiap tahun serta sepertinya sangat ditunggu- tunggu, yaitu perayaan hari-
hari besar yang dilakukan entah itu oleh umat yang beragama Islam ataupun
orang- orang yang non muslim setiap perayaan hari- hari besar pasti akan selalu
dirayakan dengan cara masing- masing bahkan sampai berlebih- lebihan, yang sharusnya
tidak begitu perlu dan melupakan akan kondisi hari esok menjadi seperti apa dan
bagaimana.
Seperti halnya baru malam tadi, kebanyakan masyarakat
turun ke jalan dengan melakukan perayaan untuk menyambut tahun yang baru. Yang
dirayakan dengan semangat dan penuh kebanggaan ada yang sampai larut malam hanya
untuk mengendarai kendaraan turun ke jalan, ada yang menghabiskan berduaan
dikegelapan malam, bahkan ada pula yang mencoba menghabiskan waktu dengan cara
yang lebih bermanfaat tetapi menghabiskan uang yang lebih banyak.
Entah ini sebuah mental ataukah memang kondisi sosial
masyarakat ini yang sangat butuh kesenangan dan kebahagiaan meskipun hanya
sesaat tetapi dengan sangat rela pula menghabiskan uang yang sangat banyak
untuk kesenangan sesaat tersbeut, entah
melihat kondisi ini kita yang mengaku umat islam apa akan terus sibuk dengan
mengedepankan Halal atau Haram, sunnah atau bid’ah akan tetapi tetap
melakukannya dan hanya menjadi perdebatan yang tidak terselesaikan.
Rasa bahagia yang saat ini dibutuhkan oleh banyak orang
dengan rela menghabiskan jutaan bahkan puluhan juta untuk hal tersebut, karena
penilai yang menjadi sangat sempit ketika sebuah kebahagiaan itu diexspresikan
atau diungkapkan berupa materi yang nampak dan dapat dinilai serta pujian dari
sesama manusia, ditutup dengan ucapannya Emha jika saya tidak salah menyimak,
seperti ini “ jika kita mentalnya dan berprilaku menjadi orang Indonesia yang
sebenarnya hidup ini akan mudah tidak sesulit apa yang dirasakan oleh
kebanyakan manusia, tetapi karena hidup ini mengejar cara orang lain maka
sulitlah yang terus dirasakan”.

0 komentar:
Post a Comment