Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Wednesday, January 01, 2014


Bukan bicara soal hukum fiqih antara halal dan haram ataupun bicara apa yang dilakukan atau sebanyak apakah petasan yang diledakan malam tadi, tetapi ini bicara soal mental dan kebiasaan yang dilakukan oleh lingkungan sosial masyarakat yang selalu latah dalam mengikuti segala hal yang entah itu baik ataupun buruk, Akan sangat cepat diikuti dan menyebar dimasyarakat Indonesia.

Mayoritas masyarakat yang entah memang mental orang kaya yang menular ataukah memang mental kehidupan yang serba instan serta mengejar kesenangan sesaat dan lebih mengedepankan memenuhi hasrat gengsi atas sesuatu tercapai dan bisa dipandang lebih keren dari yang lain, hal tersebut terjadi dalam segala hal dalam kepemilikan barang, ketika berbicara makanan. karena posisi sekarang makanan sudah menjadi gengsi bukan hanya pada esensi sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah.

Dan yang paling baru serta kebiasaan yang diulang- ulang setiap tahun serta sepertinya sangat ditunggu- tunggu, yaitu perayaan hari- hari besar yang dilakukan entah itu oleh umat yang beragama Islam ataupun orang- orang yang non muslim setiap perayaan hari- hari besar pasti akan selalu dirayakan dengan cara masing- masing bahkan sampai berlebih- lebihan, yang sharusnya tidak begitu perlu dan melupakan akan kondisi hari esok menjadi seperti apa dan bagaimana.

Seperti halnya baru malam tadi, kebanyakan masyarakat turun ke jalan dengan melakukan perayaan untuk menyambut tahun yang baru. Yang dirayakan dengan semangat dan penuh kebanggaan ada yang sampai larut malam hanya untuk mengendarai kendaraan turun ke jalan, ada yang menghabiskan berduaan dikegelapan malam, bahkan ada pula yang mencoba menghabiskan waktu dengan cara yang lebih bermanfaat tetapi menghabiskan uang yang lebih banyak.

Entah ini sebuah mental ataukah memang kondisi sosial masyarakat ini yang sangat butuh kesenangan dan kebahagiaan meskipun hanya sesaat tetapi dengan sangat rela pula menghabiskan uang yang sangat banyak untuk kesenangan sesaat tersbeut,  entah melihat kondisi ini kita yang mengaku umat islam apa akan terus sibuk dengan mengedepankan Halal atau Haram, sunnah atau bid’ah akan tetapi tetap melakukannya dan hanya menjadi perdebatan yang tidak terselesaikan.

Rasa bahagia yang saat ini dibutuhkan oleh banyak orang dengan rela menghabiskan jutaan bahkan puluhan juta untuk hal tersebut, karena penilai yang menjadi sangat sempit ketika sebuah kebahagiaan itu diexspresikan atau diungkapkan berupa materi yang nampak dan dapat dinilai serta pujian dari sesama manusia, ditutup dengan ucapannya Emha jika saya tidak salah menyimak, seperti ini “ jika kita mentalnya dan berprilaku menjadi orang Indonesia yang sebenarnya hidup ini akan mudah tidak sesulit apa yang dirasakan oleh kebanyakan manusia, tetapi karena hidup ini mengejar cara orang lain maka sulitlah yang terus dirasakan”.



Wednesday, December 18, 2013


Dalam setiap organisasi atau institusi ataupun sebuah Negara, ada ciri yang membedakan ataupun yang menjadi identetitas pembeda satu organisasi dengan organisasi yang lain dan itupun yang akan menjadikan anggota masyarakat atau organisasi akan menajdi bangga ketika menunjukan dan rasa memiliki atas organisasi tersebut, dan itupun yang menjadi identtitas organisasi yang harus dijaga dan dibanggakan  serta dilindungi sebgai sebuah asset yang berharga.
Sebuah aset yang berharga tidak hanya dihargai oleh segelintir orang yang wajib menjaganya ataupun segelintir orang yang punya tanggung jawab penuh atas identitas atau nama baik organisasi, salah satu identitas yang nampak dan sangat dirasa dan dilihat adalah logo organisasi, logo organisasi akan terus terlihat dan dirasakan keberadaanya oleh banyak orang dan menjadi sangat pembeda bagi anggota organisasi tersebut, karena logo organisasi akan disematkan di bendera kebesaran ataupun diidentitas seragam yang dibagai anggota organisasi. 
Logo organisasi akan menjadi sacral dan menjadi kehormatan bagi orang yang mencintai dan bangga atas organisasi tempat dia duduk atau berhimpun, seperti logo Osis dalam seragam sekolah menengha pertama dan sekolah menengah atas mau tidak mau, suka ataupun tidak suka atas logo tersebut mereka harus memakai logo tersebut sebagai cirri dan sebuah aktivitas kebanggan atau lingkup yang lebih besar dimedia yang menjadi pembeda antar tayangan televisi satu dan yang lainnya adalah logo yang pasti menempel dalam bentuk acara apapun baik acara yang memang diproduksi ditelevisi tersebut ataupun produksi program yang dibuat oleh luar tapi tayang dimedia tersebut tetap harus menempelken logo tempat tayang, karena itu menjadi konsekuensi dan sacral yang harus diikuti.
Betapa berartinya dan sangat dihormatinya sebuah logo diorganisasi, begitupula Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan penyiaran Islam (BEM-J KPI) di UIN Bandung, organisasi yang legal dan sacral dan dapat legalitas dari kementrian agama sebagai salah satu organisasi intra kampus menjadi hal yang wajib ketika ditungtut harus memiliki logo sebagai identitas pembeda dengan jurusan yang masih satu kampus ataupun dengan kampus yang lain.
Sebelum pada jauh meghargai identitas ataupun logo organisasi yang ada, BEM-J KPI adalah naungan organisasi mahasiswa intra kampus jurusan komunikasi dan penyiaran islam, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka ketika mahasiwa sudah masuk menjadi mahasiswa KPI itu sudah menjadi anggota dari BEM-J KPI, dan yang harus dipahami dan menjadi perhatian bersama BEM-J KPI bukan hanya milik segelintir orang yang menjadi pengurus ataupun yang diamanati tetapi BEM-J KPI adalah milik seluruh mahasiswa KPI hanya pengurus adalah sebagian kecil yang diberi amanat untuk menjalankan roda organisasi yang ada.
Logo BEM-J KPI menjadi identitas pembeda, dan salah satu benda keramat yang sangat sacral untuk mahasiswa KPI, seharusnya. Tetapi terlalu banyak orang yang semakin cerdas dan semakin pintar sebgai mahasiswa yang tidak menghargai dan menganggap sebuah organisasi legal ini menjadi hanya permainan dan mengedepakan ego sentries pribadi ataupun ruang lingkup orgnaisasi yang lebih kecil. seperti diwal tadi mau tidak mau suka ataupun tdak suka logo BEM-J KPI harus menjadi identitas bersama dan kehormatan bersama yang harus dilindungi oleh selurus mahasiswa KPI.
Logo BEM-J KPI kenapa harus menjadi hal yang sangat sacral ataupun dilindungi karena logo V adalah identitas dan kehormatan bersama ketika mengatasnamakan KPI, dalam hal yang lebih luas ataupun lingkup yang lebih besar seluruh mahasiswa KPI tidak akan dikenal lewat ego kelasnya ataupun lewat komunitas yang ada di BEM-J KPI, karena itu lingkup kecil dari minat mahasiswa yang ada. Entah klaim ataupun apapun dalam AD/ART organisasi BEM-J KPI setiap kegiatan yang ada dalam ruang lingkup mahasiswa harus terkordinasi dan dalam naungan BEM-J KPI, karena kenapa harus seperti itu itu akan menjadi pelindung jika terjadi sesuatu ataupun dari instansi luar yang ada bukan untuk mengklaim ataupun merebut, karena terlalu kecil dan naïf jika BEM-J KPI harus mengklaim atau mengakui sisi dari acara kelas ataupun Tugas UTS apalagi kegiatan komunitas yang ada.
Ketika AD/ART  bertentangan dengan kebijakan birokrat jurusan yang ada itu menjadi tidak relevan dan menjadi sulit, karena menurut saya komunitas ataupun kreativitas menjadi baik ketika timbul dari bawah tetapi menjadi kurang baik ketika kreativitas dan karya dimanfaat dan dikekang oleh kepentingan yang ada, karena kreativitas tidak ada batasannya, ketika jurusan terlalu jauh dalam kegiatan mahasiswa melalui komunitas yang ada ini menjadi tidak baik, karena mahasiwa akan memandang berbeda meskipun dipaksa untuk berpandangan sama dengan sebuah ancaman, karena sepemahaman saya jika komunitas semakin menjamur semakin membuktikan mahasiwa tidak terpuaskan oleh kebijakan dan kurikulum yang diatur oleh pihiak jurusan karena semakin tidak terpeuhinya keinginan mahasiswa.
Dan tidak hanya mahasiswa yang harus menjadikan logo ini identitas dan kehormatan tetapi pihak birokrat jurusan KPI pun harus menjadi bangga dan saling menghormati dalam logo tersebut, jangan samapai ketika sesuatau itu baik ikut memiliki dan ketika jelek tidak ikut bertanggung jawab. Jangan hanya memberikan tanda tangan ataupun memberikan ijin secara langsung karena menurut kacamata birokrat baik ataupun menguntungkan tetapi ketika itu acara terkait mahasiswa KPI baik komunitas ataupun kelas karena tugas mata kuliah yang dilaksanakan, menurut saya menjadi hal yang wajib untuk menempelka logo BEM-J KPI karena itu menjadi identitas dan kehormatan untuk kemajuan bersama dan menjadi hal yang sacral, karena belum tentu pimpinan yang lebih tinggi mau mengakui yang mengadakan kegitan meskipun memasang logo UIN, dewan mahasiwa ataupun senat, karena ada dan memanfaatkan mahasiwa KPI berarti harus berani untuk memasang logo BEM-J KPI sebagai bukti kecil kita sama dan punya tujuan yang sama untuk memajukan jurusan KPI bukan untuk mengkotakan mahasiswa ataupun menimbulkan persaingan tidak sehat dan saling menjatuhkan.

Friday, November 15, 2013

Ramai- ramai dibicarakan dan menjadi polemik yang terkesan sangat besar dan dibesar- besarkan, tempat dulu saya dipaksa untuk melaksanakan pesantren sepertinya. dengan gambaran yang angakara murka tentang pesantren dan segalanya tetapi dalam kenyatannya pesantren yang saya duduki tidak seseram yang dibayangkan karena katanya pesantren modern.
kemarin- kemarin saya kembali diingatkan ke pesantren yang tempat saya belajar menjadi nakal adalah ada banyak yang berubah, apakah perubahan ke arah yang lebih baik ataupun perubahan yang menjadi buruk karena melunturkan pesan - pesan kiai- kiai dulu, tapi mungkin baik dan buruk adalah bagaiman sudut pandang kita dan bagaimana cara kita memandang akan persoalan tersebut.
ada sebagian orang yang sedang berjuang untuk menjadikan pesantren persis bentar memiliki akreditasi "A", mungkin ada keuntungan dan kerugian pula ketika pesantren memiliki akreditasi terbaik tersebut,karena banayak hal dan banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan segala yang disebut mungkin penipuan untuk mencapai sebuah tujuan, tetapi yang sangat menari bagi saya buka polemik dari proses kemajuan pesantren yang ingin berhasi mendapatkan akreditasi A, tapi yang menarik adalah ketika yang menjadi permasalahan adalah tiang bendera yang menjulang tinggi yang entah mengibarkan atau tidak bendera indonesia dipuncaknya.
yang menjadi permasalahan rumit ketika tiang bendera benda yang mati dan tidak bisa melakukan apa- apa itu dijadikan bandingan yang disebut sebagai thogut, saya orang awam mengatakan ketika bebicara akidah atau keimanan berbicara hal yang sangat privasi ataupun sangat- sangat pribadi, karena kitapun tidak pernah tau apakah iman kita yang paling tulus atau tidak.

apakah menjadi sangat penting mengorbankan kejujuran dan mengorbankan ideologi hanya untuk keberhasilan akreditasi, tentu belum pasti juga karena pesantren yang sangat saya cintaipun PPI 19 bentar garut belum pasti pula memeiliki ideologi yang pasti dalam melaksanakan pendidikannya, contoh kongkrit dan nyatanya apa, bicara ideologi bicara yang mendasari kita melakulan apapun yang saya rasakan ketika menikmati pembelajaran dipesantren terasa tidak jelas dan tidak pasti santri ini akan dibawa kemana dan dijuruskan kemana, toh dalam kurikulumpun tidak ada skala prioritas yang menjadi dasar santri diam dipesantren, karena pendalaman ilmu- ilmu agama dan ilmu- ilmu umumpun diberiakn jam yang sama., bukti tidak ada skala prioritas .

apakah ini mutlak kesalahan pesantren bentar tentu saya tidak sepakat jika ni kesalahan pesantren bentar saja karena masih banyak ratusan pesantren yang mengatasnamakan dirinya pesantren persis meskipun sistem dan segalanya sudah tidak menunjukan persis, toh pimpinan pusat persispun sudah tidak ingin tahu dan tak mau tahu pesantren- pesantren yang ada dibwahnya kondisinya seperti apa atau bagaimana.
kesalahan timbul ketika Persis tidak punya identitas dalam melaksanakan pendidikan, bukti Persis tidak mempunyai identitas dalam melaksanakan pendidikan adalah :
1. persis melalui Bidgar. Tarbiyyah tidak bisa menyusun kurikulum yang nyata menyeragamkan pola pendidikan pesantren Persis harus bagaimana dan seperti apa.
2. seragam yang digunakan diseluruh pesantren Persis diindonesia tidak pernah sama dan seragam, hal terkecilidentitaspun tidak menjadi hal yang nyata bsa dirubah dan dirumuskan.

tergadainya ideologi menjadi hal yang sangat rumit, toh pendidikan persisnya sendiripun tidak mempunyai ideologi dalam menjalankan pendidikan persis harus seperti apa dan bagaimana dalam menjalankan pesantren- pesantrenya, jadi kalau menurut saya cara dan usaha seperti apapun yang dilakukan pengelola pesantren khususnya pesantren bentar wajar- wajar saja untuk mendapatkan akreditasi A, agar mereka bisa bersaing dan mendapatkan anak didik yang bisa mereka didik dan bisa mempertahankan pesantren untuk tetap hidup dan ada.
posisi pesantren Persis sekarang sudah tidak membicarakan berhasil sampai mana melakukan pendidikan, tapi harus mulai berfikir hanya berapa persen orang persis sendiri yang mau melaksanakan pendidikan dilingkunagn pesantren Persis, saya kira sudah tidak banayak karena orang persisnyapun sudah tidak percaya dengan sistem pengelolaan pesantren Persis.

yang terpenting untuk sekarang kritikan tidak hanya dilakukan dalam lingkup dunia maia karena pesantren bentar khususnya dan umumnya pesatren persis kebanyakan sudah membutuhkan tindakan nyata, untuk mempertahankan pesantrennya tetap berdiri tegak dan tetap hidup agar da'wah Persis masih tetap bisa berlanjut. terkecuali kalo memang Persis sendiri sudah tidak ingin hidup dibangsa yang paling saya cintai indonesia, ideologi perjuanganpun sudah tidak ada bagaimana mau berjuang untuk kemajuan, karena untuk sekarang masih banayak peantren Persis yang akan gulung tikar karena kekurangan santri dan masih banyak moral pesantren persis yang lebih parah dari anak yank tidak sekolah dipesantren Persis.
pesan saya untuk orang persis yang membaca catatan ini (kita itu orang indonesia yang beragama islam, bukan orang islam yang tinggal diindonesia (Abdurrahman AD-dakhili)) kalo masih mau tinggal diindonesia sebagai tamu harus menghormati yang punya rumah dan aturan yang dibuat oleh tuan ruamh, jangan membuat aturan sendiri yang membuat terbengkalai, karena belum tentu ada yang mengkritik, menjatuhkan pesantren untuk sekarang lebih bisa menajdikan pesantren lebih baik, dan memenuhi kebutuhan santri yang sedang melakukan pendidikan dipesantre.
(ketika berdebat sudah disingkirkan bukti kualitas intelektual sudah sanagat menurun drastis)

salam perjuangan dari ikatan Alumni PPI 19 Bentar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.