Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Sunday, December 29, 2013



Mengingat nama Soekarno sang proklamator kemerdekaan Indonesia, yang diangkat menjadi sebuah fil oleh sutradara kawakan Hanung bramantyo. pujian yang sangat harus disematkan kepada sang sutradara adalah dalam pembuatan sebuah film memang harus pendalaman dan mengkaji dalam keilmuan yang mendalam dan dalam kajian sejarah secara sudut pandang yang objektif hanung berhasil mendalami sejarah bung karno dan kesan yang ditimbulkan tidak ada yang disembunyikan.

Sosok Soekarno yang sejak kecil sudah tergambar sebagai calon pemimpin bangsa yang berguru pada sosok HOS Tjokroaminoto bersama sahabtanya Kartosuwiryo, dan menjadi tokoh yang diperebutkan oleh penjajah karena sebagai sosok yang berpengaruh dan akan menjadikan kerikil tajam yang menghambat penjajahan yang dilaksanakan.

sangat menarik ketika Soekarno mengambil keputusan untuk menikahi fatmawati dan melepas Inggit ganarsiuh dengan ungkapan yang puitis dan menarik, tetapi kebijakan Soekarnopun yang menjadi kontroversi ketika menghalalkan Pelacur masuk ke kawasan Kiai agar menyelamatkan warga sekitar supaya tidak dipaksa untuk memuaskan nafsu tentara Nipon, banyak yang dikorbankan oleh Soekarno untuk memenuhi keinginan Jepang agar memberikan kemerdekaan bagi Indonesia, ketika memaksa Rakyat kerja paksa dengan nama berbakti pada Soekarno serta mengambil pertanian Masyarakat atasnama Soekarno agar tidak ada paksaan dan darah untuk memenuhi hasrat tentara jepang.

Sosok soekarno dalam film tersebut sangat menjadi sosok yang menarik, yang sangat ditunjukkan oleh hanung dan keberhasilan film tersebut adalah ketika wibawa seorang keturunan raja jawa yang melekat pada diri soekarno dan sangat dipuja- puja oleh wanita dan setiap wanita rela untuk menjadi istri soekarno meskipun menjadi yang keberapa., dan ketika inggit garnasih harus menuntut cerai karena datangnya fatmawati dalam kehidupan soekarno serta tuntutan sang ayah soekarno untuk sebuah keturunan yang akan meneruskan kehidupan dan catatan hidup seorang proklamator.

Perjuangan kemerdekaan yang digambarkan dalam sebuah film, tergamabar dan mungkin akan menjadi kontroversi yang sangat jelas ketika sejarah kemerdekaan indonesia adalah awalnya pemberian dari jepang ketika jepang telah kalah oleh sekutu. tetapi sosok soekarno dan hatta yang bermain dengan jepang menuntut revolusi secara aman dan disebut oleh sahrir dan rekan- rekannya adalah penjilat yang memohon kemerdekaan buka berjuang, tapi walaupun seperti itu sahrir tetap mengakui bahwa soekarno tidak akan tergantikan oleh siapapun.

diatas semua kontroversi yang ditimbulkan dalam film ini untuk menarik masyarakat atas keuntungan komersil yang harus dihasilkan , baik dilingkungan keluarga yang menolak ataupun proses hukum yang sedang menimpa sang sutradara, tetapi objektivitas sejarah pantas untuk kembali dikaji ulang dan benar- benar diluruskan agara semua yang terjadi tidak ada yang disembunyikan, karena sejarah akan menajdi cermin untuk negeri ini saat sekarang.


Wednesday, December 18, 2013

Penulis : Irshad Manji

Penerbit : ReneBook

Halaman : 384 hal

Resensor : Hari Rahman Hakim


Allah, Liberty and Love

Irshad manji sosok wanita yang saat ini sedang terkenal dengan  kontroversinya karena pada acara launching dan bedah bukunya dibubarkan oleh oknum islam yang tidak menerima akan teori dan pendapat yang dikembangkannya, irshad manji adalah intelektual muslim perempuan asal kanada sosk irshad manji belum begitu terkenal di indonesia,buku  pertama yang ia tulis dan pernah dikenalkan juga diindonesia dengan judul “the trouble with islam today : a wake up call for honesty and change yang diterbitkan pada tahun 2003, dan buku pertamanaya diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan judul “ beriman tanpa rasa takut: tantangan umat islam saat ini”.

Irshad manji dalam penyampaian pesan yang disampaikan kepada pembaca dengan khasnya yang selalu memberikan gagasan baru dan menafsirkan islam dalam sudut pandang yang berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan oleh para pemikir islam sekarang, dengan cara penyampaian yang berbeda dan dengan pesan yang sangat baru jadi tulisan dia sangat bertolak belakang dengan kebiasaan sehingga tulisan dia banyak ditolak oleh segolongan umat islam dan sebagian akademisi.

Dalam bukunya yang terbaru yang berjudul “Allah, Liberty, and Love” perbedaan cara menyampaikan pemahaman dengan para ulama islam sebelumnya itu menjadi sesuatu yang menarik dalam bukunya, seperti ketika irsyad manji dalam menyampaikan tentang Tuhan Dan cinta serta, deskripsi dia tentang islam dan ijtihad yang berbeda dengan yang lain, tetapi dalam buku terbarunya irshad manji terlalu lebih dengan penyebaran faham liberalisme dan faham femenisme yang fulgar dan mendorong wanita supaya menjadi lebih berani bertindak dan menuduh kondisi muslim sekarang munafik karena tidak berani mengakui akan keadaan dirinya,yang bertolak belakang dengan hukum yang tuhannya berikan.

Buku ini sangat membuka wawasan dan memberikan pemahaman baru yang sangat terbuka dan lebih bijak menyikapi  tuhan,islam dan ijtihad yang dengan pemahaman baru , serta mengajak wanita untuk berani berontak dan menolak jika keputusan tuhan tidak sesuai dengan kenytaan atas dirinya dan sulit untuk dilaksanakan,Buku terbarunya yang berjudul : allah,liberty dan cinta, diterbitkan oleh renebook yang berada dijakarta yang pemesanan buku inipun hanya dilakukan lewat online karena toko buku terkenalpun takut untuk menjual.

Kejenuhan dan kondisi para muslimah didunia yang tidak berani dengan menyampaikan ketidaksetujuan dan menganggap tuhan tidak bijak karena terlalu memberiakn beban kepada wanita, dengan yang disampaikan oleh irsyad manji tuhan pemilik cinta dan sangat memahami keinginannya lebih baik tidak disembunyikan dan menjadi munafik tapi disampaikan ketidak setuju kepada keputusan tuhan, dalam buku ini dijelaskan tentang bagaimana umat muslim  bisa mempraktikan kebebasan dalam kehidupannya dan bebas untuk mempelajari makna yang terkandung dalam Al-qur’an, dan kondisi sekarang seolah-olah manusi tidak menemukan titik temu antara tuhan dan cinta yang mengesankan berbeda itu yang sangat disayangkan karena seharusnya percaya untuk menginterpretasikan dan menyatukan pemahaman antara tuhan dan cinta.

Dan dalam bukunya irsyad manji mengungkapkan, manusia tak perlu memiliki ketakutan akan tuhan karena tuhan adalah cinta. Manusia perlu berjuang didalam hidup kita tanpa ketakutan. Manusia  harus punya kekuatan untuk berbicara ketika banyak orang menyuruh kita diam, karena masih banyak yang harus dilakukan selain hanya meras takut, dan menurut irsyad manji dalam bukunya Allah, liberty, dan love, bahwa budaya bukanlah sesuatau yang sakral, yang dia tangkap dalam kehidupan muslim saat ini  bahwa umat muslim hidup dalam tradisi dan budaya, yang dibentuk manusi buka dibentuk oleh tuhan, ia berpesan jangan pernah menjadi moderat tetapi jadilah reformis karena menjadi moderat tidaklah berguna.

Buku Allah, liberty, dan love lebih unggul dengan memberikan pemahaman baru dan membuka wawasan umat islam khusunya para muslimah dan menerapkan konsep memahami Al-quran dengan cara yang berbeda dan umat islam agar lebih berani menyampaikan faham mereka, tetapi yang disayangkan dalam bukunya terlalu memberikan faham liberalis dan tidak menunjukan pemahaman islam dan perbandingan yang dipadukan dengan pemahaman ulama terdahulu.

Buku ini baik untuk para mahasiswa yang bisa menerima faham kebebasan dalm segi keilmuan dan pengembangan, dan supaya tidak menjadi jumud serta hanya mengikuti buya yang sudah ada, agar mahasiswa bergerak dan berubah bukan hanya diam, dan berani menunjukan pemahaman-pemahaman baru  serta berani pemikiran-pemikiran baru yang lebih beda dan beda denga yang lain.

Jangan sampai menilai dari sisi kebencian atas sesuatu jangan biarkan negara kita tidak menjadi negara bebas yang memberikan kebebasan untuk berekspresi dan bependapat, jadikan keilmuan dihadapi denmga keilmuan jangan dengan kekerasan karena itu menunjukan orang bodoh yang tidak pintar mennaggapi sebuah pemikiran karena hanya bisa bertindak dengan kekerasan.



Judul : Jurnalis Berkisah

Penulis : Yus Aryanto

Penerbit : Metagraf

Tahun : 2012

Tebal : 227 halaman

Resensor : Hari Rahman Hakim

Wartawan adalah profesi yang memiliki resiko tinggi. Intimidasi serta ancaman kekerasan adalah hal yang mengancam  setiap saat. Hanya idealisme dan keterpanggilan yang membuat seorang juru berita bertahan dengan profesi itu.

Menjabarkan semua itu dalam sebuah rancangan  yang teoritis hanya akan menghasilkan sebuah pemahaman yang kering. Berbeda jika hal itu diceritakan ataupun dituturkan oleh juru berita.
Itulah yang membuat buku ini menarik disimak sebagai sebuah teks yang menggambarkan bagian kecil jagat jurnalistik, khususnya di Indonesia. Dari sini pembaca tidak hanya mencerap ikhwal kerja jurnalistik, melainkan juga berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya.
Buku yang menceritakan kembali pengalaman para wartawan memang bukan barang baru. Seperti dikutip dalam pengantar buku ini, pernah terbit buku Jagat Wartawan Indonesia yang ditulis oleh Soebagijo IN di tahun 1980-an. Pernah juga terbit Pistol dan Pembalut Wanita yang merupakan antologi pengalaman wartawan media cetak yang bertugas di Bandung di tahun 2007.
Namun yang membedakan Jurnalis Berkisah dengan buku-buku tersebut ialah disertakannya satu ataupun dua "kasus", berkenaan dengan profesi yang mereka jalani. Inilah yang membuat cerita mengenai para wartawan ini semakin mengena dan sampai pada pembaca.
Misalnya saja Mauluddin Anwar yang terbang ke Lebanon untuk meliput perang yang terjadi di Beirut. Potongan kisah mereka saat berada di medan pertempuran akan menjadi hal menarik tersendiri bagi pembaca.   
Memakai cara pandang  para wartawan dari berbagai jenis media, buku ini bagaikan sebuah representasi dunia media. Lihat saja, di dalamnya ada penuturan Najwa Shihab yang mewakili televisi berita, Telni Rusmitantri yang bergelut di tabloid hiburan, Tosca Santoso yang malang melintang di jurnalisme radio, Erwin Arnada yang pernah memimpin Palyaboy Indonesia, ataupun Linda Christanty yang membangun sindikasi Aceh News Service.
Satu hal yang mengikat kesepuluh jurnalis dalam buku ini, yakni kesetiaan pada profesi dan kebenaran. Memang ada petikan kisah-kisah heroik dari para wartawan tersebut. Namun itu bukan titik sentral, namun sebagai pintu masuk pada persoalan yang lebih besar.
Memang, juru berita adalah manusia biasa. Mereka memiliki ketakutan, mereka sempat gentar, terkadangpun juru berita itu terpojokkan atau jdi objek yang disalahkan ketika harus membongkar skenario besar ataupun ketika tugas ke tempat yang memang keamanannya tidak menjamin. Sebut saja kutipan kisah Linda Christanty yang sempat merasa ragu ketika mendapat tawaran untuk untuk tinggal di Aceh. Memang, Aceh sebagai medan konflik bukanlah tempat yang dimimpikan banyak orang. Tapi toh semua itu ditepisnya,Kepedulianlah yang membawanya terbang ke Aceh.

Benar saja, ketika tiba di Serambi Mekkah, banyak hal yang dapat dilakukan oleh Linda. Memberikan penyadaran melalui berbagai medium adalah hal yang diupayakannnya. Termasuk memberdayakan banyak orang muda untuk berbuat lebih banyak bagi Aceh lewat dunia jurnalistik.
Lewat buku ini pembaca tidak hanya akan menjumpai romantisme dunia jurnalistik, melainkan beragamnya dunia jurnalistik terutama ketika ia berbenturan dengan berbagai kepentingan. Di sini netralitas dan keberpihakan harus mencari bentuknya kembali.

Friday, November 15, 2013

judul buku : Tapak sabdapenulis : Fauz Noor
Filsafat di dunia pesantren merupakan satu kajian yang belum tersentuh. Mungkin beberapa pesantren masih memopulerkan pendapat ulama kawakan, seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Sholah yang berkata "Barang siapa yang berlogika-berfi...lsafat maka dia dihukumi kafir zindiq". Terlebih lagi Imam al-Ghazali, karya-karyanya dijadikan simbol spiritual tertinggi di dunia pesantren, menulis suatu karya yang bagi kaum santri mungkin begitu kuat menancap di benaknya, Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filsuf). Singkat kata, filsafat di dunia pesantren masih merupakan sesuatu yang asing. Bahkan sebagian kiai masih berpendapat bahwa filsafat adalah anak haram hasil perselingkuhan orang-orang Yunani dengan para cendekiawan muslim. 
Semesta Sabda, Novel filsafat yang ditulis oleh Fauz Noor sebagai kelanjutan novel pertamanya Tapak Sabda mencoba untuk membidik masalah-masalah yang selama ini kurang diperhatikan oleh para ulama kita khususnya di dunia pesantren. Misalnya dalam suratnya kepada Sabda (nama tokoh dalam novel ini) di bab Bahasa Langit, Bahasa Bumi, di situ kita akan menemukan topik bahasan mengenai definisi agama (ad-din). Selama ini ulama mendefinisikan agama sebagai ketentuan-ketentuan Tuhan yang mendorong siapa pun yang berakal untuk berbuat baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Firman (tokoh lain dalam novel ini), penulis yang menempatkan diri sebagai pengirim surat misterius kepada Sabda, definisi tersebut masih terlalu abstrak. Yaitu dengan menafikan keberadaan akal.
Di sini Firman melakukan pembelaannya terhadap filsafat dengan mengutip hadis Nabi yang artinya: "Bahwa ad-din itu akal dan tidak ada ad-din bagi orang-orang yang tidak berakal." Kemudian Firman mengartikan bahwa ketundukan itu akal dan tidak ada ketundukan bagi orang-orang yang tidak berakal. (hlm 78) Kemudian Firman merumuskan satu kemestian berpikir, keharusan berfilsafat, bahwa sekuat apa pun kita berpikir, pada akhirnya akal akan bertemu dengan keabsurdan. Sebab, Alquran berkata "Kehidupan dunia itu hanya permainan dan senda gurau" (QS al-An'am ayat 32).
Kemudian ia mengartikan inti dari risalah Muhammad, ad-din al-Islam, dengan filsafat proses, din merupakan ketundukan berpikir dan al-Islam, kepasrahan total kepada-Nya." Singkatnya, penjelasan din dan al-Islam mengisyaratkan kepada manusia untuk "adil dulu dalam berpikir, baru engkau bisa adil dalam bertindak." Penolakan filsafat dari khazanah keilmuan Islam kiranya sangat beralasan.
Dalam buku yang pertama Tapak Sabda di situ diungkapkan ketika Sabda' Secaday sosok santri yang kreatif tidak mengakui bahwa dalam khazanah keilmuan Islam "tidak ada yang namanya fisafat Islam" ungkapnya. Menurutnya filsafat diartikan dengan berpikir secara radikal sedangkan Islam adalah ketundukan. "Jelas, dari maknanya saja sudah tidak nyambung. Lantas, bagaimana ada kajian filsafat dalam kajian Islam!" kata Sabda. Singkat kata, buku ini mengajak berkelana dunia pemikiran. Mulai dari Barat, Timur, bahkan pemikir-pemikir dari Indonesia. Pemikir Barat katakanlah, Sartre, EB Taylor, Immanuel Kant, Aristoteles, Albert Camus dan lain sebagainya. Pemikir Timur, Ibnu Rusyd, al-Farabi, al-Kindi, Ibnu Sina, Muhammad Iqbal, Mulla Sadra, dan masih banyak lagi. Sedangkan dari Indonesia, Nurcholish Madjid (Cak Nur) Jalaludin Rahmat (Kang Jalal), Quraisy Shihab, Masdar F Mas'ud, Ulil Abshar Abdala.
Akhirnya, makna semesta 'Sabda' yang diurai dalam buku ini dimaknai dalam dua pemaknaan. Pertama, luasnya kehidupan manusia (dalam hal ini tokoh yang bernama Sabda), Kedua, luasnya sabda dunia sabda Muhammad SAW. Akan tetapi, buku ini membalikkan arti luas menjadi semesta sabda. Tentang luasnya semesta sabda, terlihat dari cerita Sabda yang dipaparkan dalam buku ini, bagaimana Sabda yang terdiam di beranda rumah lalu merasa terbang bersama seekor burung menuju dunia biru yang membiru. Melihat kisah ini, kita bisa sedikit meraba ia tengah mengalami kisah spiritual yang teramat dalam. Akan tetapi, Sabda menganggap pengalaman ketika di suatu senja itu sebagai kelelahan urat saraf saja. Tentang luasnya sabda Muhammad SAW, penulis Firman mengurai panjang lebar mengenai sabda-sabda Muhammad mengenai Tuhan, alam, dan manusia yang kesemuanya itu tidak pernah terlepas dari alam pikiran manusia.