Wednesday, December 18, 2013

Jurnalis Berkisah

Judul : Jurnalis Berkisah

Penulis : Yus Aryanto

Penerbit : Metagraf

Tahun : 2012

Tebal : 227 halaman

Resensor : Hari Rahman Hakim

Wartawan adalah profesi yang memiliki resiko tinggi. Intimidasi serta ancaman kekerasan adalah hal yang mengancam  setiap saat. Hanya idealisme dan keterpanggilan yang membuat seorang juru berita bertahan dengan profesi itu.

Menjabarkan semua itu dalam sebuah rancangan  yang teoritis hanya akan menghasilkan sebuah pemahaman yang kering. Berbeda jika hal itu diceritakan ataupun dituturkan oleh juru berita.
Itulah yang membuat buku ini menarik disimak sebagai sebuah teks yang menggambarkan bagian kecil jagat jurnalistik, khususnya di Indonesia. Dari sini pembaca tidak hanya mencerap ikhwal kerja jurnalistik, melainkan juga berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya.
Buku yang menceritakan kembali pengalaman para wartawan memang bukan barang baru. Seperti dikutip dalam pengantar buku ini, pernah terbit buku Jagat Wartawan Indonesia yang ditulis oleh Soebagijo IN di tahun 1980-an. Pernah juga terbit Pistol dan Pembalut Wanita yang merupakan antologi pengalaman wartawan media cetak yang bertugas di Bandung di tahun 2007.
Namun yang membedakan Jurnalis Berkisah dengan buku-buku tersebut ialah disertakannya satu ataupun dua "kasus", berkenaan dengan profesi yang mereka jalani. Inilah yang membuat cerita mengenai para wartawan ini semakin mengena dan sampai pada pembaca.
Misalnya saja Mauluddin Anwar yang terbang ke Lebanon untuk meliput perang yang terjadi di Beirut. Potongan kisah mereka saat berada di medan pertempuran akan menjadi hal menarik tersendiri bagi pembaca.   
Memakai cara pandang  para wartawan dari berbagai jenis media, buku ini bagaikan sebuah representasi dunia media. Lihat saja, di dalamnya ada penuturan Najwa Shihab yang mewakili televisi berita, Telni Rusmitantri yang bergelut di tabloid hiburan, Tosca Santoso yang malang melintang di jurnalisme radio, Erwin Arnada yang pernah memimpin Palyaboy Indonesia, ataupun Linda Christanty yang membangun sindikasi Aceh News Service.
Satu hal yang mengikat kesepuluh jurnalis dalam buku ini, yakni kesetiaan pada profesi dan kebenaran. Memang ada petikan kisah-kisah heroik dari para wartawan tersebut. Namun itu bukan titik sentral, namun sebagai pintu masuk pada persoalan yang lebih besar.
Memang, juru berita adalah manusia biasa. Mereka memiliki ketakutan, mereka sempat gentar, terkadangpun juru berita itu terpojokkan atau jdi objek yang disalahkan ketika harus membongkar skenario besar ataupun ketika tugas ke tempat yang memang keamanannya tidak menjamin. Sebut saja kutipan kisah Linda Christanty yang sempat merasa ragu ketika mendapat tawaran untuk untuk tinggal di Aceh. Memang, Aceh sebagai medan konflik bukanlah tempat yang dimimpikan banyak orang. Tapi toh semua itu ditepisnya,Kepedulianlah yang membawanya terbang ke Aceh.

Benar saja, ketika tiba di Serambi Mekkah, banyak hal yang dapat dilakukan oleh Linda. Memberikan penyadaran melalui berbagai medium adalah hal yang diupayakannnya. Termasuk memberdayakan banyak orang muda untuk berbuat lebih banyak bagi Aceh lewat dunia jurnalistik.
Lewat buku ini pembaca tidak hanya akan menjumpai romantisme dunia jurnalistik, melainkan beragamnya dunia jurnalistik terutama ketika ia berbenturan dengan berbagai kepentingan. Di sini netralitas dan keberpihakan harus mencari bentuknya kembali.

0 komentar:

Post a Comment